Minggu, 05 Februari 2012

Hubungan Gereja dan Negara

 
 Pendahuluan
            Gereja dan negara memiliki hubungan yang berbeda di sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Hubungan tersebut terbina dengan adanya relasi antara pemerintah dalam negara dengan pemerintahan dalam gereja. Hubungan yang bervariasi tersebut diwarnai oleh berbagai peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia. Ada kalanya ketika gereja dan negara benar-benar terpisah. Akan tetapi dalam suatu masa sejarah tertentu, negara dan gereja menyatu. Demikian juga ada masanya ketika gereja dikuasai sepenuhnya oleh negara dan sebaliknya ada masa dalam sejarah perkembangan gereja ketika negara dikuasai oleh gereja.
           
Dalam paper ini penulis akan membahas mengenai dinamika hubungan atau relasi yang terjadi antara negara dan gereja sepanjang sejarah umat manusia. Penulis tidak bermaksud melakukan pembahasan secara spesifik terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hubungan tersebut. Penulis akan melakukan pembahasan mengenai hubungan tersebut secara umum. Artinya hubungan yang terjadi antara gereja dan negara akan digeneralisasikan. Generalisasi yang dilakukan penulis ditujukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai hubungan-hubungan yang terjadi antara gereja dan negara. Tidak menutup kemungkinan penulis juga akan memberikan pendapat mengenai hubungan yang seharusnya terjadi antara gereja dan negara. Apakah gereja diperbolehkan menguasai negara atau sebaliknya apakah negara diperbolehkan memiliki kewenangan penuh atas gereja? Beberapa pertanyaan tersebut yang akan dijawab oleh penulis di dalam karya tulis ini. Hal ini tidak mengindikasikan bahwa penulis merupakan seorang yang ahli di dalam sejarah, namun salah satu tujuan karya tulis ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada penulis tentang dinamika hubungan gereja dan negara dalam sejarah.
            Selain tujuan untuk menambah wawasan penulis, paper ini juga bertujuan untuk memenuhi tuntutan mata kuliah Sejarah Gereja Asia dan Indonesia. Jadi dengan diselesaikannya paper ini, penulis mengharapkan mata kuliah tersebut dapat terselesaikan dengan baik. Di samping tujuan akademis dan untuk menambah wawasan penulis, tujuan lain dari karya tulis ini adalah untuk memberikan kajian sederhana terhadap hubungan yang terjadi antara gereja dan negara di dalam dunia ini. Kajian yang diberikan tentunya didasarkan pada idealis penulis, dengan tidak mengabaikan sumber-sumber buku atau referensi yang dijadikan acuan penulisan paper ini.
            Pembahasan dalam paper ini akan dibatasi hanya pada dinamika hubungan yang terjadi di dalam gereja dan negara. Maksudnya adalah, penulis hanya akan terfokus untuk melakukan kajian terhadap hubungan tersebut. Oleh karena itu paper ini akan disusun dengan meliputi pendahuluan, pengertian gereja dan negara, hubungan yang terjadi antara gereja dan negara, dan bagian terakhir adalah kesimpulan tentang hubungan yang seharusnya terjadi antara gereja dan negara.
 

Bab 1
Pengertian Gereja Dan Negara
Gereja dan negara merupakan dua hal yang sangat berbeda. Gereja adalah perkumpulan yang terbentuk dari adanya sebuah kepercayaan kepada Allah yang hidup yaitu di dalam Kristus. Sedangkan negara terbentuk dengan adanya masyarakat yang terhimpun dalam suatu wilayah tertentu dibawah satu pemerintahan. Lianto dalam artikelnya tentang “Gereja dan Negara” menyatakan,
Sejarah Gereja membuktikan bahwa ketika gereja menjadi “gereja-negara” dan negara menjadi “negara-gereja”, keduanya berakhir pada jalan buntu. Tatkala negara mendominasi (Gereja), gereja direduksi menjadi hanya lembaga sekular manusiawi. Padahal Gereja adalah persekutuan rohani yang dibentuk Allah sendiri. Sebaliknya, ketika Gereja mendominasi (negara), negara disakralkan, dan kebijakan negara (politik) disejajarkan dengan isi wahyu. Tanpa pemilahan yang jelas, hubungan keduanya justru menjadi carut-marut. Keduanya saling eksploitasi dengan aneka trik. Kredibilitas keduanya merosot di mata rakyat dan umat.[1]

Secara etimologis, gereja dan negara memiliki pengertian masing-masing. Berikut akan dibahas mengenai pengertian tersebut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gereja memiliki dua pengertian yaitu, 1). Gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen: 2). Badan (organisasi) umat Kristen yang sama kepercayaan, ajaran, dan tata cara ibadahnya.[2]
Sedangkan negara adalah 1). Organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat; 2). Kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.[3]
Secara umum gereja dipahami sebagai suatu tempat baik itu dalam bentuk organisasi atau dalam bentuk gedung. Tempat tersebut digunakan untuk tempat peribadatan umat Kristen.  Gereja merepresentasikan satu kepercayaan atau keyakinan yaitu kepercayaan kepada Tuhan Yesus Kristus.
Kamus istilah teologi mendefiniskan gereja sebagai berikut:
Dalam Perjanjian Baru ada satu kata saja untuk “gereja” dan “jemaat”, yaitu ekklesia. Jadi ekklesia berarti : (1) Gereja (jemaat) dari segala tempat dan segala abad, persekutuan segala orang percaya; sering juga disebut “Gereja yang tidak kelihatan” (lih. Mat. 16:18); (2) Gereja (jemaat) di suatu kota (Kis. 5:11); (3). Gereja (jemaat) yang berkumpul di sebuah rumah (Rm. 16:5). Juga ada denominasi yang memakai kata gereja kalau bermaksudkan  kesatuan semua jemaat di suatu negeri dan “jemaat” bagi persekutuan setempat. [4]


Gereja “yang tidak kelihatan” adalah istilah yang digunakan untuk persekutuan orang-orang benar yang percaya di segala tempat dan dari segala abad; gereja yang merupakan tubuh Kristus. Sedangkan istilah ‘gereja yang kelihatan” berarti gereja sebagai organisasi dengan jabatan-jabatannya.
Negara merupakan organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Oleh karena itu sebuah negara terbentuk dengan adanya wilayah atau teritorial yang diakui secara internasional. Tidak hanya wilayah yang menjadi persyaratan utama berdirinya sebuah negara, akan tetapi harus ada masyarakat atau kumpulan masyarakat yang berada di bawah kepemimpinan dalam negara tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa negara tidak akan terbentuk jika tidak memiliki unsur-unsur wilayah, rakyat dan sekaligus kepemimpinan.
Sekalipun banyak perbedaan dalam pengertian antara negara dan gereja, namun definisi secara umum memiliki persamaan yaitu keduanya merupakan sebuah organisasi yang memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan yang memiliki ruang lingkup berbeda, tetapi bersama-sama memiliki anggota yang terlibat dalam organisasi keduanya.
  

Bab 2
Hubungan antara Gereja dan Negara dalam Sejarah
            Dalam sejarah, gereja dan negara memiliki beberapa bentuk hubungan. Pada bagian ini akan dibahas mengenai hubungan yang terjadi antara gereja dan negara. Banyak orang berpikir bahwa gereja dan negara merupakan dua hal yang sangat berbeda. Sehingga mereka menyatakan bahwa negara dan gereja tidak boleh memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu ada orang yang memiliki pemahaman bahwa gereja dan negara harus saling berhubungan. Artinya gereja sebagai pembina rohani harus memiliki tanggung jawab penuh terhadap negara. Negara harus berada di bawah pengawasan dan kontrol gereja. Pandangan lain menyatakan bahwa negara harus berperan penuh dalam perkembangan yang terjadi di dalam gereja. Artinya negara harus mengontrol gereja. Berbagai pandangan tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikut.

Gereja Terpisah dari Negara
            Gereja dalam kapasitasnya sebagai sebuah lembaga kerohanian, merupakan sebuah organisasi ayng terbentuk di dalam suatu wilayah tertentu. Wilayah yang dimaksud tentunya memiliki struktur pemerintahan. Artinya adalah gereja yang terbentuk di dalam negara atau teritorial kekuasaan yang diatur oleh hukum yang berlaku dalam negara tersebut.
            Pada awal terbentuknya gereja (persekutuan orang percaya),[5] gereja benar-benar terpisah dari negara. Keterpisahan yang dimaksud adalah gereja tidak mengambil bagian apa-apa di dalam strukturpemerintahan atau negara. Demikian juga dengan negara, pemerintah tidak ikut andil dalam terbentuknya sebuah organisasi gereja, baik itu dalam lembaga maupun secara kerohanian. Keduanya berjalan menurut aturan amsing-masing, tidak memiliki tujuan yang sama.
            Pluralisme merupakan salah satu penyebab negara tidak terlibat dalam gereja. Plural dalam hal tersebut adalah keanekaragaman kepercayaan masyarakat yang ada dalam negara tersebut. Beranekaragamnya kepercayaan tentu membuat negara tidak dapat memberikan perhatian khusus kepada gereja, karena tindakan seperti itu akan dianggap sebuah ketidakadilan yang dilakukan oleh negara.
            Gereja terbentuk dalam kebudayaan helenis (Romawi). Terbentuknya gereja dalam kebudayaan tersebut memberikan keterangan bahwa gereja terpisah dari negara. Keterpisahan itu disebabkan oleh negara yang tidak menganut paham seperti gereja. Romawi adalah negara yang masyarakatnya menyembah kepada banyak dewa (politheisme). Sedangkan gereja mengajarkan untuk monotheis, yaitu menyembah hanya pada satu Tuhan saja.
            Mengenai tempat lahirnya gereja, Berkhof dan Enklaar menyatakan,
Dunia tempat gereja mulai timbul ialah kekaisaran Romawi. Luasnya kekaisaran itu dari selat Gibraltar sampai sungai Efrat dan dari tanah Mesir sampai Inggris. Batasnya di sebelah utara ialah sungai Rin dan Donau, akan tetapi kuasa tentara Romawi dirasai sampai jauh di luar batas itu. Pusat kekaisaran yang besar itu ialah kota Roma, tempat kaisar-kaisar bersemayam. Pusat kekaisaran yang besar itu nampaknya masih memberikan hak kepada rakyat untuk turut memerintah negara itu, seperti ketika Romawi masih suatu republik (sebelum kaisar pertama Augustus naik tahta pada tahun 29 SM), tetapi sebenarnya Kaisar sajalah yang memegang kuasa (Monarkhi mutlak).[6]

            Sistem kekaisaran dalam negara Romawi membentuk sebuah kepercayaan bahwa seorang kaisar adalah titisan dewa yang harus disembah. Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan ajaran gereja. Berkhof dan Enklaar menyatakan, “Ibadat kepada kaisar adalah salah satu pernyataan yang sangat penting dari hidup keagamaan pada permulaan tarikh Masehi. Sebuah pandangan yang muncul dari dunia Timur, yakni bahwa kaisar mempunyai kuasa mengatasi dunia kodrati (alamiah), bahkan ia berasal dari dunia ilahi”.[7]
            Selain kepercayaan dan keyakinan yang berbeda antara negara dan gereja pada masa itu, hal lain yang menyebabkan keterpisahan gereja dan negara adalah “penganiayaan”. Penindasan yang muncul dari ketakutan pemerintah akan kekristenan menarik banyak masyarakat Roma. Kekristenan menyebabkan banyak warga Roma tidak lagi melakukan penyembahan kepada salah satu dewa atau dewi Romawi. Hal tersebut tentu merusak sistem negara yang telah terbentuk.
            Berkhof dan Enklaar memberikan beberapa data mengenai penyebab “pertikaian” atau penganiayaan terhadap gereja pada abad pertama. Mereka menyatakan,
Mula-mula negara Romawi menganggap kaum Kristen sebagai mazhab Yahudi, sehingga merekapun bebas melakukan agamanya. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa agama itu terbentuk dari seorang yang tersalib oleh pengadilan Romawi sendiri. Kemudian orang Kristen dianggap sangat berbahaya bagi negara. Kebanyakan pengikutnya adalah orang Romawi dan Yunani. Mereka tidak lagi ikut beribadat pada dewa-dewi. Semua dewa-dewi disangkal, mereka hanya menyembah kepada satu Allah saja. Sehingga mereka disindir dengan julukan “orang-orang yang tak berdewa”. Dengan berkembangnya kekristenan, maka persembahan di rumah dewa/berhala menjadi berkurang…Pendeknya, kaum Kristen dibenci karena berlainan dengan masyarakat umum. Adanya bencana alam diasosiasikan sebagai murka dewa-dewa karena banyak orang yang tidak mempersembahkan korban.[8]

            Pandangan negara yang negatif terhadap kekeristenan menyebabkan timbulnya penghambatan terhadap gereja. Beberapa penghambatan yang terjadi antara lain:[9]
  1. Sekitar tahun 64 M, Kaisar Nero mempersalahkan (lebih tepatnya mengkambing hitamkan) orang Kristen karena kebakaran besar yang memunahkan sebagian dari ibu kota negeri itu. Kristiyano menulis mengenai sikap Nero sebagai berikut,
Kaisar Nero menerapkan sikap bermusuhan terhadap orang Kristen. Ia merestui penganiayaan terhadap orang Kristen yang dianggapnya takhayul. Untuk meredam keributan di sekitar terbakarnya kota Roma, Nero menuduh orang Kristen sebagai pelakunya. Komunitas Kristen dituduh sebagai kelompok yang membenci manusia (odium humanis generis atau misanthrophia).[10]

  1. Pada tahun pemerintahan Domitianus (81-96 M). Ia dikenal sebagai seorang raja yang lalim. Jemaat Kristen sangat ditindas di beberapa bagian Kerajaan. Agama Kristen dilarang dengan maklumat-maklumat Kaisar, sebab dianggap berbahaya bagi negara. Menurut tradisi pada masa itulah rasul Yohanes dibuang ke Pulau Patmos.
Dua kaisar yang telah disebutkan di atas merupakan representatif dari berbagai penindasan yang dialami oleh gereja awal. Penganiayaan yang dilakukan oleh kedua kaisar tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk memberikan pernyataan bahwa mereka adalah penganiaya utama atas gereja. Akan tetapi pemilihan tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa penganiayaan tersebut menyatakan keterpisahan antara gereja dan negara.
Keterpisahan lain yang terjadi dalam sejarah gereja dan negara terbentuk dari kesadaran gereja akan bobroknya moral dunia. Kesadaran tersebut mengakibatkan berdirinya biara-biara kristen. Secara umum berdirinya biara-biara dapat dilihat pada abad pertengahan. Penulis tidak akan membahas lebih jauh mengenai timbulnya reaksi gereja terhadap dunia yang rusak. Reaksi yang mengakibatkan gereja memisahkan diri dari dunia. Pemisahan yang terkadang dilakukan dengan sangat ekstrim. Timbulnya pemisahan tersebut membawa kepada paham eskese yaitu tindakan yang dilakukan untuk menjauhi kenikmatan duniawi. Menjauhi kenikmatan duniawi yang dianggap sebagai sumber dosa.
Setelah membahas mengenai gereja yang terpisah dari negara, maka pada bagian selanjutnya penulis akan membahas “gereja yang menguasai negara”.

Gereja Menguasai Negara
            Keadaan yang terjadi setelah gereja mengalami penganiayaan yang sangat panjang adalah “gereja menguasai negara”. Situasi yang telah lama mencekam gereja (orang percaya) akhirnya berbalik. Dari penganiayaan negara (pemerintah) terhadap gereja berbalik menjadi pengakuan yang dialami oleh gereja terhadap negara. Sejarah mencatat dari penganiayaan gereja lambat laun berubah menjadi pengakuan yang absolut terhadap gereja atau kekristenan.
            Pengakuan yang absolut tersebut terjadi ketika Constantine (Konstantin) memegang tampuk pemerintahan. Mengenai sejarah diakuinya kekeristenan oleh negara di bawah pemerintahan Konstantin, Rick Joyner menuliskannya sebagai berikut:
Pada tahun 313M, penganiayaan kekaisaran Romawi terhadap umat Kristen tiba-tiba secara resmi dihentikan. Kemudian, tersebar berita bahwa kaisar Constantine sendiri menyatakan diri sebagai orang Kristen. Untuk memahami perubahan yang radikal ini, kita harus kembali ke tahun 306, ketika Constantine menjadi kaisar Romawi. Masa itu merupakan masa perang saudara yang berkepanjangan, karena banyak pihak yang berusaha memperebutkan takhta kekaisaran Romawi. Constantine merasa bahwa kampanyenya melawan Maxentius, salah satu pesaingnya, akan mementukan siapa yang menjadi penguasa tunggal kekaisaran. Pasukan kedua musuh ini bertemu di Jembatan Mulvian di atas Sungai Tiber dekat Roma.

Constantine mengetahui bahwa ia memerlukan pertolongan ilahi untuk memenangkan peperangan ini. Kabar burung menyebutkan bahwa ia bersimpati kepada orang-orang Kristen oleh karena istrinya, Fauta, telah memeluk agama Kristen. Constantine berdoa meminta pertolongan, dan Allah memberikan penglihatan kepadanya tentang sebuah salib terang, yang bertuliskan “in hoc signo vinces” (dengan tanda ini, engkau akan memperoleh kemenangan).

Constantine mengungkapkan bahwa ia juga bermimpi yang sama pada waktu malam. Dalam mimpi tersebut “Sang Kristus Allah” menampakkan diri kepadanya dengan tanda yang sama yang telah dilihatnya di dalam penglihatannya dan memerintahkan dia untuk membuat tanda serupa dan memakainya sebagai perlindungan dalam segala pertempuran dengan musuh-musuhnya. Keesokkan paginya, Constantine bangun dan menceritakan mimpinya itu kepada kawan-kawannya. Kemudian, ia mengumpulkan tukang pahat dan menggambarkan tanda tersebut kepada mereka supaya mereka dapat membuatnya di atas emas dan batu-batu berharga.

Pada tanggal 28 Oktober 312, Constantine memenangkan perang Jembatan Mulvian. Setelah itu, ia secara resmi menjadi Kristen dan memerintahkan agar symbol nama Juruselamatnya (tanda silang yang terdiri dari huruf Yahudi chi dan rho) menjadi lambang tentaranya. Sebuah pemahaman tentang pertobatan dan pengaruh kaisar Constantine atas gereja sangat penting bagi kita, agar kita memiliki pengertian yang lebih baik mengenai dunia saat ini. Pengaruh-pengaruh ini masih memiliki berbagai akibat yang cukup besar baik dalam agama, filsafat dan pemerintahan. [11]

            Meskipun banyak orang yang meragukan pertobatan yang dialami oelh Konstantin, akan tetapi tindakan yang dilakukannya dengan menjadikan Kristen sebagai agama negara telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kekristenan. Pengakuan tersebut membuat agama Kristen berdiri dengan kokoh di dalam negara. Sekalipun trauma penganiayaan yang telah terjadi selama berabad-abad masih dirasakan gereja, namun dengan situasi yang telah stabil tersebut membuat gereja merasakan kebebasan melaksanakan ritual agamawi dalam negara.
            Perkembangan kekristenan sangat pesat pada masa diakuinya gereja (Kristen) sebagai agama negara. Pengaruh tersebut tentunya dapat dikategorikan sebagai hal yang positif terhadap kekristenan. Namun, pengaruh positif selalu dibarengi dengan pengaruh negatif. Lambat laun pengakuan tersebut memberikan kesempatan kepada gereja (secara khusus GKR = Gereja Katolik Roma) untuk memupuk kekuasaan hingga menjadi kediktatoran terhadap negara.[12]  
            Banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa keadaan pada masa itu adalah sejarah gelap yang dilakukan oleh gereja. Di kemudian hari Gereja Katolik Roma memegang peranan yang sangat besar terhadap sejarah kekristenan. Terutama pada saat Konstantine menetapkan kota Konstantinopel sebagai kota Kristen (pusat kekristenan).[13] Kota ini kemudian berkembang secara otoritas hingga abad pertengahan. Pada abad pertengahan, Gereja Katolik Roma memegang peranan penting terhadap berbagai keputusan yang dilakukan oleh gereja.
            Sebagai contoh pada masa itu gereja (paus) memiliki kekuasaan untuk memilih kepemimpinan dalam negara. Secara khusus keadaan ini terjadi di Eropa sekitar abad pertengahan. Selama Abad Pertengahan di Eropa, Gereja Katolik Roma terus memegang kekuasaan, dengan Paus sebagai pemegang kekuasaan atas semua jenjang kehidupan dan hidup seperti raja. Korupsi dan ketamakan dalam kepemimpinan gereja adalah hal yang umum. Dari tahun 1095 sampai 1204 para Paus mendukung serangkaian perang salib yang berdarah dan mahal dalam usaha untuk mengusir kaum kaum Muslimin dan membebaskan Yerusalem.[14]
            Kekuasaan Paus terhadap berbagai segi kehidupan, menyebabkan gereja sangat menentang setiap pengajaran yang tidak sesuai dengan konsensus. Pada masa kekuasaan tersebut gereja menerapkan beberapa hal untuk meredam berbagai dogma yang menentang atau menyimpang dari dogma gereja secara umum. Tindakan tersebut dikenal dengan istilah “pengucilan” atau “inkuisisi”.
            Secara umum inkuisisi ditujukan kepada orang-orang atau perkumpulan yang menurut Gereja Katolik Roma mengajarkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran gereja.[15] Inkuisisi dilaksanakan dengan menghukum seperti menyalibkan, membakar, bahkan hukuman gantung. Ini adalah tindakan yang umum pada abad pertengahan. Sekalipun pada masa kini gereja menyadari kekeliruan tersebut, akan tetapi tindakan yang terjadi pada abad pertengahan itu dianggap benar dan dapat diterima secara umu oleh orang Kristen. Penerimaan itu memang tidak sepenuhnya diakui oleh semua orang. Terbukti dari munculnya kaum reformator di dalam tubuh gereja. Penulis tidak akan membahas lebih jauh mengenai munculnya reformasi dalam gereja katolik Roma.
            Beberapa data di atas telah memberikan penjelasan singkat mengenai situasi yang pernah dialami oleh gereja dalam sejarah. Situasi gereja yang memiliki peranan penuh di dalam pemerintahan, baik itu di dalam gereja sendiri maupun di dalam negara. Berikutnya penulis akan membahas mengenai dinamika negara yang menguasai gereja.
           
Negara Menguasai Gereja
            Negara menguasai gereja merupakan hubungan yang juga dialami oleh gereja. Keadaan ini sebenarnya telah dimulai sejak pemerintahan Konstantin sekitar tahun 313 Masehi. Konstantine telah memulai kekuasaan terhadap gereja. Memang pada masa Konstantine gereja menerima keistimewaan untuk menjalankan berbagai macam ritual agamawinya. Akan tetapi dengan kebebasan tersebut merupakan awal dari penetrasi penuh yang akan dilakukan oleh Konstantine dan kaisar-kaisar lainnya kepada gereja.
            Kekuasaan negara terhadap gereja dapat dilihat dari berbagai peraturan dan hukum di dalam negara yang sebenarnya memojokkan gereja. Gereja hanya bisa mengikuti semua yang ditentukan oleh pemerintah. Ini adalah situasi sulit yang dihadapi oleh gereja. Pada masa ini gereja memang tidak lagi mengalami penganiayaan seperti pada abad pertama, akan tetapi pada dasarnya gereja tetapi dianiaya secara hukum. Gereja tidak mampu lagi menentukan kebijakan-kebijakannya sendiri. Gereja harus patuh kepada peraturan pemerintah.
            Di beberapa negara seperti di Timur Tengah (negara Arab), Republik Rakyat China, kekuasaan terhadap gereja sangat membabi buta. Tidak hanya penganiayaan yang dialami oleh gereja (orang percaya), namun juga penolakan secara terang-terangan. Penolakan tersebut memunculkan gereja bawah tanah. Orang-orang Kristen memilih untuk melakukan ibadah secara underground.
            Dari berbagai hubungan yang terjadi antara gereja dan negara. Satu hal yang tidak pernah dilepaskan oleh orang percaya adalah core believe yaitu “Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Ia adalah Allah yang menjadi manusia untuk menebus dosa manusia”. Pemimpin gereja dan negara bisa menyimpang akan tetapi ada saja orang percaya yang tetap berpegang teguh pada imannya.
 
 

Bab 3
Kesimpulan
           
            Gereja dan negara merupakan dua institusi yang berbeda. Namun keduanya memiki hubungan yang tidak dapat dipungkiri. Warga jemaat atau warga gereja adalah warga negara, oleh karena itu seharusnya terbina hubungan yang baik antara gereja dan negara. Sejarah telah memperlihatkan bahwa gereja yang mengusai negara membawa kepada masa kegelapan gereja. Demikian halnya dengan masa dimana negara menguasai gereja, ini adalah masa yang suram di dalam perkembangan kekristenan.
            Oleh karena itu negara dan gereja tidak boleh saling menguasai satu dengan yang lainnya. Gereja harus menghormati negara sebagai otoritas yang mengelola wilayah tempat gereja berada. Demikian juga negara seharusnya menghormati  gereja sebagai sebuah lembaga yang terbentuk dari perkumpulan warga negara yang memiliki kesamaan kepercayaan. Dengan adanya saling menghormati, maka gereja dan negara akan hidup berdampingan dengan damai. Gereja akan hidup dalam damai sejahtera untuk membina kerohanian warga negara yang percaya kepada Kristus. Kerohanian yang baik akan membawa warga negara dan juga membawa negara kepada kesejahteraan.


Daftar Pustaka

Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.3 [versi elektronik].
Berkhof , H. & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja cetakan ke-27. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Kristiyanto, Eddy, Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Soedarmo, Dr. R., Kamus Istilah Teologi cetakan ke-12. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.

Sumber dari Internet :
Joyner,  Rick, “Warisan Constanine, Penyatuan Gereja dan Negara” [web page on-line] tersedia di http://www.bethanybangkok.com/?p=1493
http://www.gotquestions.org/indonesia/sejarah-keKristenan.html.



[1] Web page [on-line] tersedia di http://lianto71.blogspot.com/2008/08/gereja-dan-negara.html diakses 14 Nopember 2011.
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.3 [versi elektronik].
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.3 [versi elektronik].
[4] Dr. R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologi cetakan ke-12 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 30.
[5] Bandingkan H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja cetakan ke-27 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), vii.
[6] Berkhof & Enklaar, Sejarah Gereja, 1.
[7] Berkhof & Enklaar, Sejarah Gereja, 3.
[8] Berkhof dan Enklaar, Sejarah Gereja, 15.
[9] Dikutip dari Berkhof dan Enklaar, Sejarah Gereja, 16.
[10] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadi Peristiwa (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 42. Sebagai catatan, penganiayaan yang terjadi pada masa Nero masih bersifat lokal. Penganiayaan-penganiayaan yang dialami gereja masih berada di teritorial Romawi, secara khusus di kota Roma. Penganiayaan tersebut belum merambat ke berbagai wilayah di luar Roma.
[11] Dikutip dari artikel Rick Joyner, “Warisan Constanine, Penyatuan Gereja dan Negara” [web page on-line] didapat dari http://www.bethanybangkok.com/?p=1493 diakses 14 Nopember 2011. Perlu diketahui bahwa tindakan pengakuan yang dilakukan oleh Konstantine hanya merupakan permulaan. Keadaan yang sebenarnya lebih menguntungkan terjadi sekitar 70 tahun kemudian, pada masa pemerintahan Theodosius, keKristenan menjadi agama resmi dari kekaisaran Romawi. Para Bishop diberi tempat terhormat dalam pemerintahan, dan pada tahun 400 A.D. istilah Romawi dan Kristen pada dasarnya sama. [web page on-line] tersedia di http://www.gotquestions.org/indonesia/sejarah-keKristenan.html.
[12] Sekalipun penulis menempatkan situasi pemerintahan Konstantine ke dalam bagian “Gereja Menguasai Negara” akan tetapi penulis tidak mengabaikan fakta bahwa pada masa itu Konstantine juga menguasai gereja. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pada masa pemerintahan Konstanine, negara mulai menguasai gereja, hanya saja kekuasaan negara terhadap gereja masih bersifat otoritas pemerintah terhadap warga negara.
[13] Rick Joyner menuliskan, Pada tahun 321, seluruh bisnis sekuler dilarang diadakan pada hari pertama dalam minggu tersebut, untuk menghormati hari pertama pertemuan orang-orang Kristen. Namun, hari tersebut ditetapkan sebagai “hari suci matahari”, bukannya hari Tuhan (itu sebabnya hari tersebut dinamakan “Sunday”). Kompromi ini memenuhi tuntutan orang-orang kafir dalam kekaisaran, namun membuat orang-orang Kristen tercengang. Kemudian, Constantine mengeluarkan dekrit kebebasan beragama di seluruh kerajaan dengan menulis, ”Jangan ada seorang pun mengganggu kebijaksanaan ini, namun biarlah setiap orang bebas untuk mengikuti prasangka pikirannya sendiri.” Akhirnya, ia mendirikan kota Konstantinopel sebagai “ibukota yang didedikasikan bagi agama Kristen”. (Joyner, “Warisan Constantine, Penyatuan Gereja dan Negara” [web page on-line] tersedia di http://www.bethanybangkok.com/?p=1493).
[14] [web page on-line] tersedia di http://www.gotquestions.org/indonesia/sejarah-keKristenan.html diakses 19 Nopember 2011.
[15] Secara khusus tindakan pengucilan bahkan penghukuman tersebut diberikan kepada orang-orang yang dianggap sebagai penyebar ajaran sesat (bidat).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar